Telur Dadar yang Terlalu Ambisius
Telur itu sebenarnya tidak punya masalah.
Sejak awal, ia hanya ingin menjadi telur dadar.
Digoreng sederhana, dimakan hangat, selesai.
Tapi masalah biasanya tidak datang dari dalam.
Ia datang dari luar—pelan, seperti saran yang terdengar baik.
Suatu hari, seseorang berkata:
“Sekarang orang-orang suka yang lebih variatif.”
Telur itu mengangguk, meskipun tidak benar-benar paham.
Lalu ia mulai melihat sekeliling.
Ada telur dadar dengan bayam—katanya sehat.
Ada yang pakai keju—katanya disukai banyak orang.
Ada yang ditambah cabai—katanya berani.
Telur itu mulai berpikir:
“Kalau aku tetap sederhana… aku akan ketinggalan.”
Maka ia mulai menambahkan.
Sedikit daun bawang—supaya segar.
Wortel—supaya berwarna.
Jamur—supaya terlihat dewasa.
Keju—supaya dicintai.
Cabai—supaya dianggap kuat.
Ia tidak lagi bertanya: “Aku ini apa?”
Ia hanya bertanya: “Apa lagi yang bisa ditambahkan?”
Wajan mulai panas.
Minyak mulai diam-diam menunggu.
Telur itu dituangkan dengan penuh harapan.
Ssssttt—
Suara itu biasanya menenangkan.
Tapi kali ini… terdengar seperti sesuatu yang dipaksakan.
Adonannya terlalu penuh.
Terlalu padat.
Terlalu ingin membuktikan sesuatu.
Ia tidak bisa menyebar.
Tidak bisa menjadi bentuknya sendiri.
Sebagian matang terlalu cepat.
Sebagian lain tertinggal.
Wajan akhirnya bicara:
“Kamu ini bukan kurang bagus.”
Telur itu diam.
“Kamu hanya… tidak memberi dirimu kesempatan untuk jadi jelas.”
Di meja makan, seseorang mencicipinya.
Diam sebentar.
Lalu berkata:
“Ini enak… tapi aku tidak tahu ini sebenarnya apa.”
Telur itu tidak tersinggung.
Ia hanya tiba-tiba sadar—
selama ini ia sibuk menjadi banyak hal
sampai lupa menjadi satu hal
yang benar-benar ia mengerti.
Dan mungkin, masalahnya bukan pada apa yang ia tambahkan.
Tapi pada satu hal yang tidak pernah ia pertahankan:
dirinya sendiri.