Skip to content
-
Di ruang ini, rasa tidak dipersempit menjadi sensasi inderawi semata. Login
ruangrasa

ruangrasa Blog

ruangrasa

ruangrasa Blog

  • Home
  • Manifesto Ruang Rasa
  • Redaksi
  • Shop
  • Home
  • Manifesto Ruang Rasa
  • Redaksi
  • Shop
Close

Search

  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
EmosiFilosofi

Ketika Dapur Mulai Berbicara

By Imelda
April 9, 2026 2 Min Read
0

Di dapur, tidak ada yang benar-benar diam.

Minyak mendesis seperti seseorang yang ingin didengar tapi tidak pernah diberi giliran.
Bawang membuat kita menangis, tanpa pernah menjelaskan alasannya.
Dan api—ia selalu tampak kecil, sampai kita sadar bahwa dialah yang mengubah segalanya.

Kita sering mengira bahwa memasak hanyalah urusan perut.
Padahal, diam-diam, ia juga urusan hati.

Ada orang yang memasak dengan takaran pasti, seolah hidup harus selalu bisa dikontrol.
Ada yang memasak tanpa resep, percaya bahwa rasa bisa ditemukan sambil berjalan.
Dan ada juga yang hanya berdiri di depan kompor, menunggu sesuatu matang—tanpa benar-benar tahu apa yang sedang ia tunggu.

Lucunya, makanan tidak pernah benar-benar memprotes.
Ia hanya menjadi.

Menjadi terlalu asin.
Menjadi kurang matang.
Menjadi gosong karena kita terlalu sibuk memikirkan hal lain.

Dan dari semua itu, ia seperti berbisik:

bahwa hidup pun sering begitu.

Kita jarang marah pada diri sendiri ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana.
Sebaliknya, kita menyalahkan keadaan, waktu, atau orang lain—
seperti seseorang yang kepedasan lalu menyalahkan sambal,
padahal sejak awal ia tahu apa yang ia ambil.

Mungkin, selama ini, kita hanya kurang mendengar.

Bukan karena dapur tidak berbicara.
Tapi karena kita terlalu sibuk ingin dimengerti.

Padahal rasa tidak pernah berbohong.
Ia tidak tahu cara berpura-pura.
Ia hanya hadir—apa adanya.

Pedas tetap pedas.
Manis tetap manis.
Dan pahit… ya, tetap pahit, meskipun kita berharap sebaliknya.

Buku ini tidak akan mengajarkan cara memasak.

Ia hanya mengajak kita duduk sebentar di dapur—
mendengarkan hal-hal kecil yang selama ini kita anggap biasa.

Tentang sambal yang lelah disalahkan.
Tentang nasi yang diam-diam menjadi pusat dari segalanya.
Tentang kue yang terlalu banyak berpikir sebelum matang.

Dan mungkin, di antara cerita-cerita itu,
kita akan menemukan sesuatu yang tidak kita cari—
tapi ternyata selama ini kita butuhkan:

cara untuk memahami hidup,
tanpa harus selalu menjelaskannya.

Karena pada akhirnya,
seperti halnya masakan,

tidak semua hal perlu sempurna
untuk bisa terasa cukup.

Author

Imelda

Follow Me
Other Articles
Previous

Resep Keluarga dan Cara Kita Mengingat Orang yang Kita Cintai

Next

Telur Dadar yang Terlalu Ambisius

No Comment! Be the first one.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Postingan

  • Telur Dadar yang Terlalu Ambisius
  • Ketika Dapur Mulai Berbicara
  • Resep Keluarga dan Cara Kita Mengingat Orang yang Kita Cintai
  • Rasa yang Kita Cari Ketika Sedang Tidak Baik-Baik Saja
  • Kue, Ibu, dan Bahasa Cinta yang Bisa Dimakan

Komentar

  1. A WordPress Commenter on Ruang Rasa

Arsip

Kategori

  • Care
  • Cinta
  • Emosi
  • Filosofi
  • Identitas
  • Kontemplatif
  • Memori
  • Psikologi
  • Uncategorized
  • Warisan

Ruang Rasa adalah ruang berpikir tentang Indonesia melalui rasa. 

redaksi@ruangrasa.id

Copyright 2026 — ruangrasa. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme