
Ada hal-hal yang tidak kita sadari nilainya ketika masih memilikinya. Salah satunya: momen kecil di dapur. Bunyi sendok yang beradu dengan mangkuk, aroma yang perlahan memenuhi rumah, dan seseorang yang berdiri tenang di depan kompor.
Ibu.
Dulu, kue hanyalah kue. Manis, lembut, enak. Kita memakannya tanpa banyak berpikir. Baru setelah waktu berjalan, maknanya berubah. Rasa yang sama tiba-tiba terasa lebih dalam. Bukan lagi sekadar soal lidah, tetapi tentang ingatan.
Tentang siapa yang membuatnya.
Tentang suasana yang menyertainya.
Tentang perasaan yang diam-diam tersimpan di dalamnya.
Kue memiliki cara aneh untuk menghubungkan masa kini dengan masa lalu. Satu aroma bisa memanggil kembali ruang, wajah, bahkan versi diri yang sudah lama lewat. Kita tidak hanya mengingat, kita seperti disentuh kembali oleh sesuatu yang pernah memberi rasa aman.
Barangkali karena cinta memang sering hadir dalam bentuk yang tidak spektakuler.
Bukan dalam kalimat besar,
melainkan dalam tindakan kecil yang berulang.
Membuat kue adalah pekerjaan yang pelan. Ada kesabaran, ketelitian, waktu yang diberikan tanpa tergesa. Dan waktu adalah bentuk perhatian yang paling sunyi sekaligus paling nyata. Seseorang memilih berhenti sejenak dari dunianya untuk menyiapkan sesuatu bagi orang lain.
Tanpa banyak kata, pesan itu sampai.
Ketika kita dewasa dan mulai membuat kue sendiri, sering muncul perasaan yang sulit dijelaskan. Ada gerakan yang terasa familiar. Ada rasa yang terasa seperti pulang. Seolah-olah dapur bukan sekadar ruang fisik, tetapi ruang kenangan yang masih hidup di dalam tubuh.
Kita pikir sedang mengikuti resep.
Padahal mungkin sedang menelusuri jejak cinta.
Pada akhirnya, kue bukan hanya makanan. Ia adalah bentuk kasih sayang yang pernah diwujudkan secara nyata. Sesuatu yang bisa disentuh, dibagi, dan dirasakan bersama.
Dan mungkin itulah sebabnya satu rasa sederhana bisa membuat kita diam sejenak.
Karena di balik manisnya,
ada seseorang yang masih kita simpan dengan lembut di dalam ingatan.