
Cinta sering dibayangkan sebagai sesuatu yang besar dan mencolok—kata-kata indah, gestur spektakuler, momen yang layak dikenang. Namun dalam kehidupan sehari-hari, cinta lebih sering hadir dalam bentuk yang nyaris tak terlihat.
Di dapur, misalnya.
Tidak ada musik latar. Tidak ada adegan sinematik. Hanya rutinitas yang berulang: mencuci, memotong, menumis, menunggu. Aktivitas yang tampak biasa, bahkan melelahkan. Tetapi justru di sanalah bentuk perhatian yang paling konsisten sering berlangsung.
Memasak adalah tindakan yang pelan dan konkret. Ia menuntut waktu, energi, dan kehadiran. Seseorang berdiri di depan kompor bukan untuk dirinya sendiri semata, melainkan untuk orang lain yang akan duduk di meja makan. Ada niat merawat yang bekerja diam-diam.
Tanpa deklarasi.
Menarik bahwa banyak ekspresi cinta domestik tidak pernah terdengar dramatis. Ia tidak meminta pengakuan, tidak menuntut sorotan. Ia hadir sebagai tindakan berulang yang nyaris dianggap wajar. Padahal, di balik rutinitas itu ada sesuatu yang mendasar: perhatian yang terus-menerus diberikan.
Cinta sebagai kebiasaan.
Dalam keseharian, yang menopang relasi sering kali bukan ledakan emosi, melainkan kontinuitas kecil. Makanan yang selalu tersedia, rasa yang diingat, kebutuhan yang dipikirkan. Dapur menjadi ruang di mana cinta bekerja dalam bentuk paling stabil: keberulangan.
Bukan intensitas sesaat,
melainkan ketekunan.
Kita jarang menyadari dimensi ini karena ia terlalu akrab. Terlalu sering terjadi. Baru ketika ritme itu terhenti—ketika dapur tak lagi seramai dulu—kita mengerti bahwa yang terasa “biasa” sebenarnya adalah bahasa kasih sayang yang paling nyata.
Memasak bukan sekadar produksi makanan.
Ia adalah praktik care.
Sebuah cara mengatakan “aku memikirkanmu” tanpa perlu mengatakannya. Sebuah bentuk kehadiran yang tidak retoris, tetapi material. Sesuatu yang bisa disentuh, dibagi, dan dirasakan.
Pada akhirnya, dapur mengajarkan sesuatu yang jarang dirayakan:
bahwa cinta tidak selalu perlu dramatis.
Ia cukup setia.
Cukup hadir.
Cukup diulang, hari demi hari.